SMA NASIMA TERTARIK BATIK MAGELANG nANOM

Jarum jam menunjuk angka 13.05, tepat saat iring-iringan 2 bus pariwista berhenti di tepi jl. A. Yani tepatnya dekat gapura bertulis Ringinanom. Seorang pria paruh baya sibuk memberi aba-aba agar kedua bus lebih ke tepi lagi. Agus Nurasikin, demikian sapaan akrab pria tersebut, melambaikan tangan sembari mengawasi lalulalang kendaraan yang cukup ramai. Tidak lama kemudian satu persatu rombongan berseragam biru putih turun dari kedua bus pariwisata tersebut.

Agus Nurasikin adalah salah satu IKM pengrajin batik Magelang nANOM dari Kota Magelang, siang itu dia kedatangan rombongan siswa-siswi SMA NASIMA dari Kota Semarang. Kedatangan rombongan tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melihat secara langsung proses produksi Batik Magelang nANOM. Sepintas terkesan aneh dan menimbulkan tanda tanya besar di benak, rasanya ingin segera menjumpai rombongan tersebut dan mengkonfirmasi maksud kedatangan mereka. Rupanya masih harus diuji untuk bersabar dan menahan penasaran lebih lama, karena rombongan tidak langsung ke lokasi produksi melainkan transit dulu dimasjid untuk menunaikan sholat dzuhur.

Setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya sebanyak 76 siswa siswi kelas X SMA NASIMA tiba dilokasi produksi batik Magelang nANOM. Dibawah pimpinan Pak Ullin rombongan berhenti di depan rumah produksi disambut oleh sang empunya rumah, keduanya saling memperkenalkan diri. Pak Ullin menyampaikan maksud kedatangan rombongan adalah dalam rangka mengenalkan siswa-siswi SMA NASIMA dengan usaha skala rumah tangga (home industry) khususnya batik, kegiatan ini merupakan program kurikulum di SMA NASIMA dan diberikan untuk semua jenjang.

Hal yang sangat istimewa tentu adalah dipilihnya batik Magelang nANOM sebagai obyek observasi bagi siswa-siswi SMA NASIMA. Orang lebih mahfum bahwasanya pusat batik itu Solo, Yogyakarta dan Pekalongan, bahkan ketiga daerah tersebut sudah disemat sebagai kota batik. Mendengar di Kota Magelang ada batik pun tentunya banyak orang masih mempertanyakan, terlebih ini menjadi tujuan observasi oleh kalangan pendidikan dari luar daerah.

Namun dengan datangnya rombongan siswa siswi SMA NASIMA menjadi bukti kuat betapa ISTIMEWA nya batik Magelang nANOM. Mereka bukanya tidak tau kalau pusat batik itu di Solo, Yogya atau Pekalongan. Menurut Pak Ullin, selaku ketua rombongan, batik Magelang nANOM memiliki keunikan dan keistimewaan sendiri, tidak semua orang bisa memproduksi batik jenis ini. Hal ini didasarkan dari hasil survey yang bersangkutan terhadap proses produksi batik di beberapa lokasi sentra batik. Menurut kacamata beliau, hasil produk batik jenis ini memiliki kekhasan dan daya jual yang sangat bersaing. Produk batik dari daerah lain sudah sangat umum dan pasaran karena menggunakan pewarna sintetis, lanjut beliau.

Batik Magelang nANOM memang memiliki kekhasan dengan pewarnaan alaminya. Sekilas memang terlihat kusam, tapi justru itulah yang menjadi daya tarik dan diminati oleh golongan menengah keatas sehingga menjadikannya begitu istimewa. Alhasil harganyapun tentu ikut terdongkrak, dipasaran batik warna alam ini harganya bisa mencapai Rp 700.000,- hingga Rp. 1.500.000,- per lembar. Prospek inilah yang mendorong dipilihnya batik Magelang nANOM sebagai tujuan observasi oleh siswa-siswi SMA NASIMA setelah membanding-bandingkan proses produksi batik dibeberapa lokasi pembuatan batik.